Social Icons

salam multikultur :)

Pages

Kamis, 03 Januari 2013

Kota: Ciri masyarakat, Sifat interaksi, dan kekuatan-kekuatannya

Kota, sejuta orang ingin pergi kesana. Mencari pekerjaan yang lebih bergengsi atau meneruskan pendidikan yang lebih kompleks dan modern. Banyak orang di pedesaan beranggapan bahawa kota adalah tempat tujuan segala bidang. Ntah pekerjaan, pendidikan, jodoh, ataupun yang lainnya. Orang sering menyimpulkan kota adalah tempat harapan menjadi kenyataan. Benarkah?
Untuk lebih sedikit memahamkan kita mengenai kota, mari sejenak kita belajar mengenai apa itu kota, ciri dan sifat interaksi sosial masyarakat kota, serta mengapa kota memiliki kemampuan untuk menggerogoti konsep keluarga tradisional. Dalam ruang kecil ini, dalam blog amatir ini

A. Kota
Wirth dalam buku yang berjudul Modernisasi (Schoorl, JW., 1984 : 274) mendefinisikan kota sebagai tempat pemukiman yang relatif besar, berpenduduk padat dan permanen dari individu-individu yang secara sosial heterogen. Dari  penduduk yang heterogen ini, kemudian akan dapat menghasilkan suatu penemuan-penemuan baru yang bermanfaat bagi orang lain. Penemuan-penemuan ini kemudian di wujudkan dalam pusat perbelanjaan, pendidikan, kebudayaan, bisnis, serta lain sebagainya.

B. Ciri masyarakat kota.
Menurut Bintarto (1983 : 45) ciri sosial dari masyarakat kota ialah sebagai berikut:
1.      Pelapisan Sosial Ekonomi. Perbedaan tingkat pendidikan dan status sosial dapat menimbulkan suatu keadaan yang heterogen. Heterogenitas tersebut dapat berlanjut dan memacu adanya persaingan, lebih-lebih apabila jumlah penduduk di kota semakin bertambah banyak dan dengan adanya sekolah-sekolah yang beraneka ragam terjadilah berbagai spesialisasi di bidang ketrampilan ataupun di bidang jenis mata pencaharian.
2.      Individualisme. Perbedaan status sosial ekonomi maupun kultural dapat menumbuhkan sifat individualisme. Sifat kegotongroyongan yang murni sudah jarang dapat dijumpai di kota. Andaikata sudah dalam bentuk yang lain. Dalam hubungan ini pergaulan tatap muka secara langsung dan dalam ukuran waktu yang lama sudah mulai jarang terjadi, karena komunikasi lewat telepon sudah menjadi alat penghubung yang bukan lagi merupakan suatu kemewahan. Selain itu karena tingkat pendidikan masyarakat kota sudah cukup tinggi maka segala persoalan diusahakan diselesaikan secara perseorangan atau pribadi tanpa meminta petimbangan keluarga lain. Walaupun demikian, bengsa Indonesia dengan falsafah, jiwaa dan pandangan pancasilanya tidak mudah meninggalkan cara hidup gotong royong yang sudah berakar lama dan telah menjadi ciri dan pola hidup bangsa Indonesia.
3.      Toleransi Sosial. Kesibukan masing-masing masyarakat kota dalam tompo yang cukup tinggi dapat mengurangi perhatiannya kepada sesamanya. Apabila ini berlebihan maka mereka mampu akan mempunyai sifat tak acuh atau kurang mempunyai toleransi sosial. Di kota msalah ini dapat diatasi dengan adanya lembaga atau yayasan yang berkecimpung dalam hal ikhwal kemayarakatan.
4.      Jarak Sosial. Kepadatan penduduk di kota-kota memang pada umumnya dapat dikatakan cukup tinggi. Jadi secara fisik, di jalan, di pasar, di toko, di bioskop, dan di tempat yang lain masyarakat kota berdekatan, tetapi dari segi sosial mereka berjauhan karena perbedaan kebutuhan dan kepentingan.
5.      Penilaian Sosial. Perbedaan status, perbedaan kepentingan, dan situasi kondisi kehidupan kota mempunyai pengaruh terhadap sistem penilaian yang berbeda mengenai gejala-gejala yang timbul di kota. Penilaian dapat didasarkan pada latar belakang ekonomi, dapat pula pada latar belakang pendidikan dan latar belakang filsafat. Perasaan atau sikap tinggi dari sesama masyarakat kota dapat merugikan sense of belonging atau rasa kesatuan dan persatuan (Bintarto, 1983 : 45).

 C. Sifat interksi sosial pada masyarakat kota.
Dalam bukunya yang berjudul Modernisasi (Schoorl, JW., 1984 : 274) Wirth juaga menyebutkan
sifat-sifat hubungan sosial (interaksi sosial) dalam masyarakat kota (konteks kekotaan), anara lain:
1.        Banyak relasi orang kota, menyebabkan tidak mungkin adanya kontak diantara pribadi-pribadi yang lengkap. Di dalam masyarakat yang besar terjadilah suatu segmentasi dari hubungan-hubungan antarmanusia. Artinya, kalau jumlah relasi itu besar, orang hanya saling mengenal terutama dalam satu peranannya saja, misalnya sebagai kondektur-penumpang atau pelayan toko-pembeli, tanpa mengetahui sesuatu tentang keadaan keluarga masing-masing, pendapat masing-masing tentang baik dan jahat serta seterusnya. Akan tetapi bagi penduduk kota tidak mungkin mengenal atau berkenalan dengan semua pribadi orang yang untuk suatu keperluan mengadakan kontak. Biasanya ia hanya mengenal orang lain secara terbatas sekali. Juga kalau bertatap muka, kontak itu tidak menyangkut “pribadi” orang, hanya dangkal saja, sifatnya sementara dan hanya mengenal segemn-segmen tertentu. Oleh karena itu juga dikatakan bahwa sifat hubungan-hubungan di kota itu tidak primer, akan tetapi sekunder.
2.        Orang kota harus melindungi diri sendiri agar tidak terjadi terlalu banyak hubungan-hubungan yang sifatnya pribadi, mengingat konsekuensi-konsekuensinya untuk waktu dan tenaga yang ada padanya. Ia juga harus melindungi diri terhadap relasi-relasi yang potensial tidak baik baginya. Karena orang lain itu tidak dikenal, maka juga tidak diketahui sampai berapa jauh ia membahayakan keamanan atau cara hidupnya, sampai berapa jauh ia membahayakan (sub) kebudayaannya. Akibatnya ialah bahwa banyak kontak ditandai oleh semacam reserve, acuh tak acuh atau kecurigaan.
3.        Aspek ketiga yang berkaitan dengan sifat hubungan-hubungan itu ialah kegunaan yang dapat dipetik dari banyak relasi. Kontak itu tidak diadakan atau timbul, karena orang ingin saling berhubungan atau saling bertemu. Kebanyakan hubungan itu digunakan sebagai sarana untuk mencapai tujuan-tujuan sendiri.
4.        Wirth masih mengemukakan akibat lain dari relasi sosial. Dapat dikatakan ada semacam emansipasi atau kebebasan bagi individu untuk menghindar dari pengawasan kelompok kecil atas kesukaan dan emosinya. Akan tetapi sikap demikian itu menyebabkan orang tidak bebas lagi dalam melakukan perbuatan, orang tidak bebas lagi menerapkan moral yang spontan diakuinya, sedang itu semua termasuk dalam kehidupan masyarakat yang sudah terintegrasikan. Ini mengansung bahaya akan timbulnya semacam keadaan tanpa norma, suatu situasi anomi, dimana relasi-relasi kurang didasarkan atas norma-norma yang diterima oleh mamsing-masing (Schoorl, JW., 1984 : 274).

D. Kekuatan kota dalam menggerogoti organisasi keluarga tradisional
Menurut Goode (Schoorl, JW., 1984 : 279) kekuatan-kekuatan di dalam masyarakat kota yang
mampu menggerogoti organisasi keluarga tradisional ialah sebagai berikut:
  1. Keharusan mobilitas horisontal atau geografik, yang menyebabkan kontak fisik antarkeluarga menjadi kurang teratur dan kurang sering.
  2. Mobilitas sosial yang besar, sehingga anggota-anggota satu kelompok kekerabatan juga dari satu keluarga masuk dalam kelas sosial yang berbeda-beda dengan cara hidup yang berlainan. Ini menyebabkan lebih sulitnya mengadakan kontak.
  3. Organisasi kota dan industri mengambil alih berbagai fungsi kelompok kekerabatan, seperti perlindungan politik, penyelenggaraan pendidikan, peminjaman uang dan sebagainya.
  4. Lebih diutamakan prestasi (achievement) daripada keturunan (ascription) sehingga kelompok keluarga menjadi kurang penting.
  5. Karena pelaksanaan spesialisasi yang dipegang teguh, maka juga tidak banyak kemungkinannya bahwa ikatan kekrabatan itu akan memegang peranan dalam menentukan kedudukan (Schoorl, JW., 1984 : 279).

1 komentar:

  1. kita juga punya nih artikel mengenai 'Interaksi Sosial', silahkan dikunjungi dan dibaca , berikut linknya
    http://repository.gunadarma.ac.id/bitstream/123456789/1393/1/11207518.pdf
    trimakasih
    semoga bermanfaat

    BalasHapus

 

facebook

mas_mar27@yahoo.com

Google+ Followers

twitter

aryantomuslim@gmail.com

Google+ Badge